Search This Blog

Sunday, December 12, 2010

renungan 4

2. Mengenal Allah berarti membuktikan diri untuk berbuat baik. 

Ini zaman Postmodern. Kita hidup di antara banyak kepercayaan yang mengklaim: Saya menyembah Allah yang benar. Semua klaimnya mirip. Jelas, realita ini tidak terhindarkan. Saat semuanya meyakini: Allahku hidup! Buktinya adalah: Dia berkuasa merubah umat-Nya. Karena itu, apa tanda seorang yang beragama? Berbuat kebaikan.

Akibatnya? 

Sepanjang sejarah, semua keyakinan berlomba untuk memanifestasikan kebaikan. Orang Kristen juga terjebak di sini. Kalau kenal Allah, masak sih saya tidak berbuat baik? Orang Kristen terperangkap ikut-ikut perbuatan baik orang lain yang tidak mengandung keselamatan. Hanya meniru saja. 

Kepercayaan tertentu ada meditasi, orang Kristen ikut-ikutan. Yang lain buat bakti sosial, orang Kristen tak mau kalah. Satu gereja mengadakan program pembinaan ”Berdoa yang Benar”, kita juga bikin. Keyakinan tertentu bisa menyembuhkan, masa orang Kristen tidak bisa? Malu dong. Kita juga bisa, jauh lebih sakti mandraguna malahan. Terus-menerus kita terjebak untuk membuktikan diri.

Ada orang Kristen melihat orang kepercayaan lain kasih goceng (Rp. 5.000) buat pengamen. Sejak itu, dia tidak damai sejahtera. Tiap mau ngasih selalu ingat,”Aku kan kenal Allah yang benar, masa cuma ngasih cepek (Rp.100)?” 

Terus, apanya yang salah? Emangnya orang Kristen tidak boleh berbuat baik?” tanya seorang teman.

Berbuat kebaikan tentu harus, kudu dan wajib, hanya sayang, kalau semangatnya hanyalah perbandingan dan pertandingan belaka. Perbuatan baik seharusnya muncul dari hati yang mengasihi Allah. 

Karenanya, perlu membedakan: 

Perbuatan baik bagi kepercayaan lain adalah End (Tujuan).
Perbuatan baik bagi orang Kristen adalah Means (Sarana).
Begitu dibolak-balik, bahaya sekali...

Tujuan hidup setiap orang Kristen setelah diselamatkan adalah bergaul karib dengan Allah yang baik dan memuliakan Dia di dalam setiap dimensi kehidupannya.

Makin kenal dengan Allah yang sejati, maka Allah sendirilah yang akan MEMBERI TAHU perbuatan baik apa yang harus Anda lakukan. 

Ga pake ikut-ikutan! Kebaikan yang satu jelas berbeda dengan yang lain. 

Perubahan dan pencapaian hidup yang hebat bagi seseorang, bisa jadi buat yang lain biasa saja. ”Gitu aja kok bangga!” Tapi, di hadapan Tuhan, ketaatan yang kelihatan biasa bisa jadi malah sungguh luar biasa!

Untuk memahami lebih lanjut, mari bedakan Kebaikan Eksistensial vs. Kebaikan Ontological

• Kebaikan Eksistensial: Pada dirinya, memang dia orang baik. Sesuai hati nurani manusia. Bisa dilatih, diupayakan, dipraktekkan, dan ditiru-tiru. Melakukan hal yang baik menurut diri dan norma yang diajarkan.

• Kebaikan Ontological: Hakekatnya baik dan dinilai baik oleh Allah, cocok dengan kehendak Allah. Pada dasarnya manusia tidak memiliki kebaikan ini, diberikan sewaktu seseorang mengalami penebusan dosa oleh Yesus Kristus yang mati di kayu salib. 

Hati-hati, semua kebaikan eksistensial adalah NOL di hadapan Allah . 

Kebaikan seperti ini tidak punya andil dalam keselamatan dan bukan bagian yang integral dari tanda-tanda kehidupan dalam keselamatan.

Silahkan memberi seluruh harta benda, kalau tidak punya kebaikan Ontological hasilnya nihil di hadapan-Nya. 


Agar lebih jelas, mari kita perbandingkan si A vs si B:

A: Orang yang anti sosial, pembuat onar dan kejahatan. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang buruk, papanya rampok, mamanya pelacur (sorry, cuma contoh ekstrem). Karena itu, pribadinya kacau luar dalam. Seluruh pelajaran agama sulit diterapkan. Waktu bertemu Yesus, dia sadar akan dosanya dan ingin berbuat baik. Tapi kok...susahnya luar biasa. 

B: Orang yang saleh. Dia dididik dalam lingkungan yang bagus. Orang tua baik dan mencintai Tuhan. Ibadah di Gereja dengan pengajaran yang kokoh. Seumur-umur gak pernah nipu, apalagi berzina...

Di hadapan Tuhan A & B tidak beda! Jika B dianggap lebih baik dari A, maka Tuhan Allah tidak adil. Loh kok gitu? Jangan protes dulu. Gini penjelasannya:

Di hadapan Tuhan: A & B sama. Sama apanya? 

Same-same (baca: sama-sama) orang berdosa yang butuh penebusan Yesus Kristus. Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Artinya, mau baik seperti apapun...kalau tidak menerima Kristus yah jelas masuk neraka. 

Tapi, di hadapan manusia, A dan B jelas bagaikan Beauty and The Beast. Beda segala-galanya!

Menurut Anda, siapakah diantara kedua orang ini yang lebih mahir berbuat baik?

Tepat jawaban Anda: Pasti si B. Dia eksistensinya memang orang baik. Penebusan Kristus plus didikan orang tua yang cakap membuat dia lebih mumpuni melahirkan berbagai kebaikan dalam hidupnya. Fast like a rocket.

Bagaimana Si A? Penebusan Kristus plus masa lalu yang amburadul. Kira-kira kalau dicampur jadi apa ya? Jadi susah...! Jatuh bangun melulu. Keinginan berbuat baik ada, tapi daging terlalu lemah, seringkali jatuh dalam dosa yang sama melulu. Bertahun-tahun begitu terus. Slowly, but are you sure?

Waktu diperbandingkan, bertobatnya sih sama, tapi kok pertumbuhannya lain? Ya iyalah, lah wong garis startnya aja beda. Beda 200 Km! 

Tidak apa-apa. 

Yang penting, Allah sumber kebaikan telah beranugerah menghadirkan kebaikan yang dulu sangat mustahil muncul dalam hidup si A.

A yang backgroundnya buruk, mulai memberikan persembahan, mulai memperhatikan orang miskin, mulai mau melayani Tuhan, walaupun mungkin gerutuannya tidak kurang juga. Tapi, inilah yang dilihat Tuhan. Ontological! 

Apa yang dilakukan si A adalah mustahil jika dia tidak mengalami cinta kasih dan penebusan dosa dari Yesus Kristus. Kebaikannya yang kelihatan sangat kecil bersumber dari Tuhan yang menghadirkan hal impossible! Impossible is Nothing. Di tengah kelemahan, A tetap bersyukur. Kalau masa muda dulu tidak bertobat, pastilah hidupnya amit-amit sekarang.

Nah, cara untuk melakukan kebaikan Ontological, yaitu menempel pada ’pokok anggur’, kita adalah carangnya. ”Yesus pokok dan kitalah carangnya. Tinggallah di dalamnya...” Ingat lagu ini? Karenanya, kita akan berbuah lebat. 

You named it, God gave it! Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. 
Ada apel, pisang, jambu, strawberry, ... ngak usahlah yang pisang mau jadi jambu. Di dalam Tuhan, yang pisang jadilah pohon pisang yang berbuah lebat dan manis. 

Jadi, kita berbuat baik adalah akibat bergantung sumbernya yaitu Kristus sendiri. Jenis-jenis kebaikan yang kita lakukan juga karena Kristus. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita. 

Penting diingat: kebaikan Eksistensial dan Ontological tidak bisa dipisah total. Seorang yang pada dasarnya baik, akan lebih mudah memahami dan mentaati firman Tuhan. Karena itu, kalau nanti Anda sudah jadi orang tua, haruslah mendidik anak baik-baik. 

(bersambung)

Hadiah Untuk Tuhan di Hari Natal..

Tentu ramai diantara kita yang tertanya-tanya'benarkah Yesus lahir pada tanggal 25 Disember?' malah ada jg yang tidak merayakan natal pada tarikh tersebut atas alasan2 mereka sendiri. 

Yah,meskipun ada perbezaan pendapat dan kita tidak tahu bila tarikh sebenar Yesus lahir ke dunia,namun yang perlu kita ketahui ialah, Dia Yesus yang telah lahir ke dunia menjelma menjadi manusia 100% dan pernah hidup di dunia lalu mati kerana menebus dosa2 kita. 

Penting sekali untuk kita ingat bahawa di hari natal ini kita harus persembahkan seluruh hidup kita kepada Yesus sebagai hadiah kita kepada Dia di hari lahirNya.Namun ramai juga yang menyambut hari natal sebagai suatu perayaan yang penuh dengan pesta pora,mabuk-mabukkan dan hal-hal keduniawian lainnya yang menyakitkan hati Bapa. 

Sobatku, jangan biarkan Sang Raja itu menangis di hari kelahiran-Nya.Jangan jadikan Natal sebagai suatu perayaan yang penuh dengan pesta pora.Sebaliknya biarlah Dia menangis oleh kerana pertobatan kita,biar lah Dia 'menangis' kerna bersukacita atas komitmen kita yang baru iaitu penyerahan diri kepadaNya. 

Erti natal sesungguhnya ialah membawa damai sejahtera di atas bumi dan ini yang perlu ditekankan.Dalam erti kata yang lain,ini tidak hanya suatu pesan, tetapi harus diwujudkan secara nyata dalam kehidupan kita,baik secara individu mahupun sebagai bangsa.Sebab bagi kita, pesan ini mengandungi makna agar kita menghindarkan diri daripada perbuatan2 yang tidak baik seperti KEDENGKIAN, PERTENTANGAN, PERMUSUHAN, PEPERANGAN dan segala jenis kejahatan2 lainnya sebab Yesus telah lahir sebagai Raja kita yang memerintah dan berkuasa dan Dia telah memberikan damai sejahtera kepada kita dan sekaligus menjadikan kita orang2 yang benar2 telah diperbaharui melalui kehadiran Yesus Kristus. 

Di hari natal ini, ayuh kita semua memberikan hadiah yang terbaik buat Dia yang telah mengasihi kita terlebih dahulu.Beri hati kita,beri seluruh hidup kita pada-Nya.Hadiah yang Yesus mahukan dari kita ialah penyerahan diri,pertobatan,mengakui segala dosa-dosa,kesalahan,kekhuatiran/masalah kita.Jangan takut,Tuhan mengasihi kita dan Dia pasti mengampuni dosa kita.Mari kita datang dan akui semua dosa2 kita di hadapan-Nya.Yesus tidak pernah memandang hina kepada orang2 yang datang dengan hati yang hancur dan jiwa yang remuk, sebaliknya Dia mengasihi kita dan menyambut kita,Dia menghulurkan tangan-Nya dan menerima kita sebagai anak2-Nya. 

Jadikan natal ini sebagai suatu kesempatan untuk mengasihi Yesus dan menerima pengampunan dari pada-Nya.Nikmatilah hari natal ini bersama dengan Yesus makan bersama Dia sambil membisikkan pada-Nya,'Bapa..selamat ulang tahun,Happy Birthday Jesus, I love You now and forever'....dan Dia pasti gembira mendengar ungkapan ini yang dilafazkan dari hati yang mengasihi...

GBU...

renungan 3

Shalom saudara,
dalam kehidupan ini tentu akan ada sebuah proses yang harus kita lalui sebelum akhirnya kita bisa sampai kepada tujuan dari apa yang kita harapkan. Tidak peduli apakah proses itu menyedihkan dan menyakitkan, yang pasti adalah kita akan tetap melewatinya dan tidak ada jalan lain untuk memperoleh apa yang kita inginkan selain melewati yang namanya sebuah proses. Banyak orang begitu kesulitan dan berputus-asa ketika proses itu mencoba menjatuhkan mereka dalam mencapai tujuannya, namun hal itu tidak berarti bahwa perjuangan itu harus berakhir. Justru ketika kita mengalami kejatuhan itulah maka permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai, mengapa?
karena bukan saat kita jatuh, segala sesuatu akan berakhir melainkan saat kita jatuh, kita perlu kembali berdiri dan berusaha meraih tujuan kita. Ketika banyak orang melihat kepada kita dan mencela kita, jangan hiraukan mereka dan tetaplah melihat kepada tujuan itu. Proses itu memang selalu tidak enak untuk dijalani, namun tanpa disadari proses itu selalu menjadikan keindahan dalam kehidupan ini.

_________________________________________

Suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yg sedang membaca koran. “Ayah, ayah” kata sang anak. “Ada apa?” tanya sang ayah. “Aku capek, sangat capek … Aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek. Kalau begitu aku mau menyontek saja! Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung. Aku ingin jajan terus! Aku capek, sangat capek karena aku harus selalu menjaga sikapku untuk menghormati teman-temanku, sedang teman temanku seenaknya saja bersikap kepada ku. Aku capek menahan diri. Aku ingin bersikap seperti mereka ayah!” Sang anak mulai menangis.

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata, ”Anakku ayo ikut ayah, ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.” Lalu sang ayah menarik tangan sang anak, kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. Lalu sang anak pun mulai mengeluh, ”Ayah mau kemana kita? Aku tidak suka jalan ini, lihat sepatuku kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. Badanku dikelilingi serangga, aku benci jalan ini ayah!” Sang ayah hanya diam.

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang. "Wwaaaah… tempat apa ini ayah? aku suka! aku suka tempat ini!” Sang ayah Lalu mejelaskan kenapa tempat yang begitu indah, sangat sepi dan sedikit orang datang ke sana. Karena kebanyakan orang tidak mau bersabar menyusuri jalan itu. Si anak pun tersadar...

_________________________________________

Saudara, kadangkala proses itu membuat kita mengeluh kepada Tuhan. Mungkin proses itu membuat kita merasakan kesia-siaan dari usaha kita. Namun, ketika Tuhan tidak menghiraukannya, anda mungkin mulai merasakan kekecewaan. Tahukah anda bahwa proses itu tidak berhenti bukan karena Tuhan tidak mempedulikan anda, bukan karena Tuhan tidak mau menolong anda, hanya saja itu karena Tuhan ingin membawa anda lebih lagi melihat apa yang telah Tuhan persiapkan dibalik proses yang anda hadapi. Dari sebuah proses yang kita alami, Tuhan sedang membawa kita melihat rancangan terbaiknya atas hidup kita. Karena itu, jangan pernah lari dari proses yang terjadi dalam hidup kita melainkan hadapilah proses itu bersama Tuhan......!!!
Tuhan Yesus memberkati.........

Friday, December 3, 2010

Doa Syafaat - Mr Adolof Modoh

Fungsi Doa Syafaat (2)


Seorang pendoa syafaat tidak dibentuk mulai dengan suatu beban untuk berdoa, melainkan dengan suatu beban untuk mengasihi -- suatu beban yang pada akhirnya akan memimpin pendoa syafaat itu kepada suatu kegiatan doa penuh belas kasihan yang sangat dalam yang mengalir ke luar dari tujuh fungsi doa syafaat.
(Fungsi pertama dan kedua dapat Anda baca pada edisi 19)
  1. Panggilan untuk Melayani
  2. Panggilan Untuk Berperang
  3. Panggilan untuk Menjadi Sama dengan Orang Lain
    Doa syafaat adalah tindakan untuk menjadi sama dengan orang lain. Seorang pendoa syafaat yang telah menyerahkan diri sepenuhnya untuk tugas tersebut seringkali mendapatkan bahwa keterlibatan dengan orang lain sangat memengaruhi pola hidupnya. Sebagaimana Paulus mengingatkan orang-orang percaya di Korintus: "Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka." (1 Korintus 9:19-20a; 22).
    Baik roh melayani maupun roh berperang, keduanya terkait pada roh pengindentifikasian. Melayani adalah tunduk kepada dan menolong orang lain. Berperang demi orang lain adalah masuk ke dalam peperangan rohani dan menangkis serangan-serangan setan. Pelayanan seperti itu dengan jelas memerlukan roh untuk menjadi sama dengan mereka yang membutuhkan disertai dengan kemauan untuk menyesuaikan dengan gaya hidup seseorang, jika perlu, untuk menolong memenuhi kebutuhan tersebut. Apa artinya menjadi sama dengan seseorang dalam doa syafaat? Apakah itu berarti menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain, bahkan sampai kepada titik menyangkal diri sendiri apa pun yang diperlukan untuk menolong meringankan kebutuhan tersebut. Sebagai contoh, para pendoa syafaat belajar untuk mendengarkan "yang tersirat" ke mana pun mereka pergi. Pembicaraan yang biasa sesungguhnya dapat menjadi sebuah daftar doa yang tidak tertulis bagi pendoa syafaat yang peka.
    Belajar untuk menjadi sama dengan orang lain dalam doa adalah suatu pelajaran utama yang unik yang Tuhan ajarkan kepada saya sepuluh tahun yang lalu. Selama berhari-hari, berita-berita dalam surat kabar dan televisi dipenuhi dengan rincian mengenai keadaan sandera yang menyangkut 153 siswa sekolah dasar yang disandera oleh teroris di Negeri Belanda. Para teroris mengancam akan membunuh seorang anak setiap kali jika tuntutan mereka tidak dipenuhi. Sejak hari terjadinya krisis saya mohon kepada Tuhan untuk melindungi anak-anak tersebut dan agar mereka dapat dibebaskan dengan selamat. Lalu terjadilah hal yang aneh. Beberapa hari setelah krisis terjadi, ancaman para teroris semakin bertambah. Hari itu, pagi-pagi sekali, di kapel doa saya yang terletak di halaman belakang terjadi hal yang luar biasa. Pikiran saya dipenuhi dengan sebuah gambar. Tetapi itu lebih dari sekadar gambar mati .... gambar itu hidup dan saya berada di dalamnya. Saya berdiri di sekolah dengan 153 siswa yang disandera tersebut. Saya dapat melihat anak laki-laki dan perempuan dengan mata rohani saya. Tetapi kemudian saya melihat sesuatu yang mengejutkan. Hanya 151 siswa yang berkebangsaan Belanda; yang dua lainnya adalah putri kami, Dena dan Giner, yang masing-masing berusia enam dan sembilan tahun.
    Secara alamiah saya tahu hal ini tidak mungkin. Kedua anak gadis kami berada kurang dari seratus meter jauhnya, mereka sedang terlelap tidur di atas tempat tidur yang nyaman. Tetapi saya lupa akan hal tersebut. Saya telah masuk ke dalam pesan seorang pendoa syafaat yang menjadi sama dengan seseorang dan Roh Kudus telah mendorong saya ke dalam suatu doa yang sungguh-sungguh yang tidak pernah saya alami sebelumnya. Perasaan marah meliputi saya dan saya mulai memerintahkan para teroris untuk melepaskan anak-anak. Saya memukulkan tinju saya pada telapak tangan saya yang lain ketika saya berdoa. Saya mengacungkan jari saya dengan otoritas ketika saya memerintahkan kepada mereka untuk melepaskan anak-anak. Saya menangis. Saya berteriak. Saya gemetar. Dan tiba-tiba saya merasa menang. Sebagaimana doa itu tiba-tiba saja terjadi demikian pula dengan tiba-tiba doa itu berhenti.
    Tidak lama setelah itu saya meninggalkan kapel doa saya di halaman belakang dan saya menuju ke kantor saya. Rasa menang itu begitu nyata sehingga saya tidak memikirkannya lagi sampai ketika saya duduk di meja makan malam hari itu bersama istri dan anak-anak kami. Pesawat televisi dibiarkan menyala di ruang keluarga dan saya dapat melihat ke layarnya dari sudut mata saya. Saya sedang menyuapkan satu sendok penuh kentang ke mulut saya ketika siaran berita dimulai. Pembawa berita, Walter Cronkite, mulai dengan kata-kata, "Kami memunyai berita gembira dari Negeri Belanda!" Saya terpaku dan berbalik melihat ke layar televisi. "Kami baru saja menerima kabar bahwa telah terjadi suatu terobosan dalam krisis penyanderaan yang terjadi di Negeri Belanda. Tiga dari 153 orang anak telah dibebaskan," Cronkite melanjutkan. Ini bisa menjadi permulaan dari berakhirnya krisis yang mengerikan ini." Reaksi saya mengherankan saya. Bukannya saya meneriakkan teriak kemenangan, melainkan air mata mengalir keluar dari mata saya dan saya meletakkan kembali sendok yang penuh dengan kentang ke piring saya. Keluarga saya tidak tahu apa yang saya lakukan. Yesus, saya berkata dalam hati, saya tidak minta hanya tiga anak, saya minta agar mereka semua dibebaskan. Dan itu adalah doa yang lahir dari Roh-Mu.
    Pada saat itu suatu ledakan keberanian baru timbul dalam diri saya dan saya memukulkan tinju saya dengan keras ke atas meja, sambil menyatakan di depan keluarga saya yang terkejut, "Dan saya menuntut mukjizat itu terjadi sekarang juga!" Apa yang kemudian terjadi akan membuat saya tercengang sampai nanti pada hari saya mati. Pada saat yang sama ketika saya memukul meja acara siaran televisi disela dengan suatu siaran berita. Walter Cronkite diganti dengan seorang penyiar dari stasiun CBS lokal yang tergabung: "Kami menyela siaran ini untuk membawakan berita yang terbaru mengenai krisis penyanderaan di negeri Belanda. Berita yang disampaikan oleh bapak Cronkite adalah rekaman yang telah dibuat terlebih dahulu untuk ditayangkan di Pantai Barat dan tidak lengkap. Seluruh siswa yang berjumlah 153 anak telah dibebaskan pagi ini."
    Saat itu merupakan waktu kemenangan yang tidak akan pernah bisa saya lupakan. Tentu saja saya bukanlah satu-satunya orang percaya yang berdoa, tetapi saya tahu bahwa doa-doa saya telah membuat suatu perubahan. Yang paling mengesankan bagi saya adalah sarana yang Tuhan pakai -- yaitu kuasa untuk menjadi sama dengan orang lain. Jalan menuju doa syafaat dimulai dengan suatu kemauan untuk menjadi sama dengan sakit hati dan kecemasan orang lain. Kita harus ingat bahwa Yesus datang dari kemuliaan keindahan kekal untuk "berdiam di antara" umat manusia (atau "memasang kemah-Nya", seperti yang diartikan dalam kata Yunani) sehingga Ia dapat membayar harga dari keterlibatannya (Yohanes 1:14).
  4. Panggilan untuk Berbagi
    Doa syafaat adalah berbagi. Dalam mengutus murid-murid-Nya, Kristus memberikan serangkaian perintah yang menerangkan dengan singkat dasar dari pelayanan mereka. Sebuah tugas sederhana dari keseluruhan daftar itu berisi, "Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma." (Matius 10:8b). Sayang sekali, banyak orang percaya masih harus belajar rahasia memberi dengan rela. Mereka memberi, tetapi tidak dengan kemurahan hati yang tidak terbatas. Kita melihat bahwa perintah Kristus kepada murid-murid-Nya melebihi dari sekadar memberi. Ia berkata, "berikanlah dengan cuma-cuma" Inti dari doa syafaat yang berarti adalah kemauan untuk memberi. Dan seringkali kemauan mengalir bukan dari kemakmuran, tetapi dari keadaan yang miskin. Dalam menggambarkan gereja-gereja di Makedonia, Paulus berkata, "Walaupun mereka telah mengalami banyak kesusahan dan kesulitan, keadaan mereka yang sangat miskin telah bercampur dengan sukacita yang mengagumkan, dan hasilnya ialah melimpahnya pemberian mereka kepada orang lain." (2 Korintus 8:2, FAYH)
    Mengenai gereja ini Paulus menambahkan: "Mereka memberikan bukan hanya apa yang dapat mereka berikan, melainkan lebih daripada itu. Saya dapat memberi kesaksian bahwa mereka melakukannya dengan rela hati, bukan karena paksaan dari pihak saya. .... Dan mereka memberi dengan cara yang sama sekali tidak pernah kami harapkan...." (8:3,5) Pada masa-masa permulaan dari pelayanan sekolah doa kami, suatu hari kami membutuhkan dana sebesar AS$ 5.000 untuk membayar tagihan yang harus dibayar pada hari itu. Hati saya serasa jatuh ketika saya pergi ke kantor pos dan hanya mendapatkan seberkas surat-surat dari para pendukung kami. Setelah membuka surat yang pertama sepertinya tidak menolong saya keluar dari kesulitan saya. Isinya hanya 71 sen.
    Tetapi kemudian saya membaca kesaksian yang disertakan dengan pemberian tersebut yang ditulis oleh seorang ibu atas nama putrinya yang berumur enam tahun. Selama beberapa tahun ibu ini mendukung pelayanan kami dengan mengirimkan persembahan yang ia sisihkan dari uang belanjanya setiap bulan. Bulan sebelumnya ia telah mengirim $20, yang telah kami beri tanda terima dengan mengirim kartu ucapan terima kasih dan sebuah permohonan doa mengenai uang gaji kami. Dan ia mendoakannya. Doanya didengar oleh putrinya yang berumur enam tahun. Surat ibunya menceritakan kepada saya apa yang terjadi kemudian. "Malam ini saya kembali ke dalam kamar putri kami, Elisa, yang berumur enam tahun. Elisa mengasihi Yesus dengan sungguh-sungguh. Ia mengundang Yesus masuk ke dalam hatinya ketika ia berumur empat tahun. Ketika saya membereskan pakaiannya, saya terkejut mendengar suaranya. "Mami," Elisa berkata, "Tuhan baru saja mengatakan kepada saya untuk memberikan semua tabungan saya kepada pelayanan Dick Eastman, orang yang ibu doakan hari ini." Menurut ibu Elisa, anak yang berumur enam tahun itu matanya berair ketika ia mengatakan itu, sebagian penyebabnya adalah karena uang tabungannya yang berjumlah 71 sen itu telah ditabung dengan susah payah untuk membeli sebuah mainan yang sangat diinginkan oleh Elisa.
    "Sangat sulit sekali bagi Elisa untuk memberikan semua tabungannya", ibu dari anak yang berumur enam tahun itu menulis, "karena dia ingin sekali mendapatkan mainan tersebut. Tetapi ia mengatakan kepada saya bahwa ia ingin lebih menaati Tuhan. Jadi, Saudara Dick, terlampir adalah sebuah persembahan sebesar 71 sen. Ini adalah lebih dari apa yang pernah saya kirim, karena walaupun setiap persembahan yang saya berikan adalah suatu pengorbanan, tetapi saya tidak pernah memberikan semua yang saya miliki " Sepertinya ada roh kemurahan yang dilepaskan di antara para pendukung kami. Ketika sisa dari berkas surat-surat yang tidak seberapa itu dibuka pagi itu, ternyata kami telah mengumpulkan $8.500 sebagai persembahan dan itu semua dimulai dengan pemberian Elisa sebesar 71 sen.
  5. Panggilan untuk Memerintah
    Doa syafaat adalah memerintah. Doa syafaat adalah memerintah dengan otoritas. Kepada nabi Yeremia, yang mungkin dapat digambarkan dengan lebih tepat sebagai "pendoa syafaat profetik", Tuhan berkata: "Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam." (Yeremia 1:10) Yeremia bukan seorang raja atau pemimpin politik. Namun ia diangkat untuk memerintah atas "bangsa-bangsa" maupun "kerajaan-kerajaan". Penting sekali untuk diketahui bahwa ada dua alam otoritas -- bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan. Kerajaan-kerajaan di sini berbicara tentang pemerintahan rohani atas suatu daerah yang tidak kelihatan, sedangkan bangsa-bangsa berbicara tentang kepemimpinan secara lahiriah atas suatu daerah yang nyata. Garis besar peran Yeremia sebagai seorang pendoa syafaat telah dinyatakan dengan jelas.
    Panggilannya dimulai dengan tugas untuk "mencabut". Untuk menjadi seorang pendoa syafaat yang efektif berarti harus pergi ke sumber masalah tersebut yaitu akarnya. Akar adalah sumber daya yang tersembunyi dari sebuah tumbuhan. Ketika berurusan dengan kerusakan moral, maka akar menunjuk kepada kekuatan jahat yang tidak kelihatan yang menyebabkan kerusakan. Jadi Yeremia ditugaskan untuk menyingkirkan "akar-akar kerusakan" yang mencemarkan bangsa mereka melalui doa syafaat. "Mencabut" dalam doa berarti menembus dalam sekali ke dalam suatu keadaan rohani sehingga kita dapat langsung berurusan dengan sumber utama dari keadaan tersebut. Di samping itu Yeremia harus "merobohkan" rintangan-rintangan yang telah dibangun untuk menghalangi pemberian yang terbaik dari Tuhan kepada umat-Nya.
    Merobohkan artinya memindahkan dari suatu kedudukan yang tetap. "Merobohkan" sesuatu menunjukkan bahwa kita memindahkan sesuatu yang telah diletakkan di tempat yang tinggi. Untuk masa sekarang hal tersebut dapat menunjuk kepada seorang diktator yang telah diangkat untuk memegang kekuasaan dan bercokol dalam kedudukannya yang tinggi itu. Kemudian Yeremia diperintahkan untuk "membinasakan" rintangan-rintangan ini. Menghancurkan artinya "menaklukkan atau mengalahkan seseorang atau sesuatu sama sekali". Masih ada lagi. Yeremia diperintahkan untuk "meruntuhkan" apa yang menjadi takhta Setan. Meruntuhkan bahkan memunyai arti lebih keras dari merobohkan. Meruntuhkan artinya "membuang atau memindahkan sesuatu dengan cepat dan dengan tenaga yang besar".Pada perjalanan saya yang pertama ke Tiongkok di tahun 1978, saya sering melihat meja-meja yang dipenuhi dengan tumpukan tinggi Buku Kecil Merah dari Mao Zedong yang merupakan kumpulan dari ungkapan-ungkapan politik yang berbau atheis. Revolusi Kebudayaan pada tahun 1960-an sebagian besar berasal dari sebuah kesetiaan yang ketat pada ajaran yang terdapat dalam Buku Kecil Merah ini.
    Saya memutuskan untuk membawa pulang sebuah buku untuk dipakai pada waktu doa syafaat saya. Saya taruh buku kecil itu di kapel doa saya di halaman belakang rumah dan bilamana saya mulai dengan doa syafaat saya, saya diingatkan untuk berdoa bagi pelepasan rohani negara Tiongkok. Hari demi hari selama lebih dari dua tahun saya memegang Buku Kecil Merah bersampulkan vinil di tangan saya, dan memerintahkan agar disingkirkan dari masyarakat Tiongkok. Doa-doa saya hampir selalu keras. Saya berteriak melawan pengaruh dari buku ini, karena sering teringat bagaimana saya melihat anak-anak muda membacanya di tanah lapang di Tiongkok seakan-akan mereka sedang mempelajari Alkitab dalam kelompok kecil. Bayangkan betapa herannya saya ketika kemudian saya mengunjungi Hong Kong dan melihat sebuah berita halaman depan dengan gambar Mao Zedong yang ditumbangkan -- diruntuhkan -- di seluruh negara Tiongkok. Saya baca setiap kata dari berita dalam bahasa Inggris itu. Satu kalimat menimbulkan suatu kegembiraan yang istimewa: "Dan mengenai nasib Buku Kecil Merah dari Mao Zedong, sepertinya hilang dari permukaan bumi."
    Tetapi panggilan Yeremia belum lengkap. Masih ada dua tanggung jawab penting yang tertinggal. Apa yang dimulai dalam keadaan negatif sekarang menjadi positif. Sekarang Yeremia diperintahkan untuk "membangun" dan "menanam". Membangun artinya "memberi bentuk pada sesuatu sesuai dengan sebuah rencana atau proses tertentu", atau "membangun dan menguatkan". Pendoa syafaat tidak hanya harus menyingkirkan rintangan-rintangan melalui doa-doa mereka, tetapi mereka harus menolong menempatkan sesuatu pada tempat yang telah disingkirkan sebagai gantinya. Jadi, pendoa syafaat tidak hanya berdoa agar seorang pemimpin yang jahat disingkirkan, tetapi ia juga harus berdoa supaya pemimpin yang benar akan dibangkitkan. Demikian pula menanam adalah unsur yang penting bagi doa syafaat yang efektif. Menanam artinya "menaruh sesuatu pada suatu tempat di mana ia mempunyai kemampuan untuk tumbuh". Doa syafaat di sini melebihi dari doa untuk suatu kebutuhan. Doa syafaat yang "menanam" melibatkan tindakan, dengan menerapkan jawabannya kepada doa-doa kita sendiri.
  6. Panggilan untuk Menangis
    Doa syafaat adalah menangis. Doa syafaat adalah hancur hati di hadapan Tuhan. Pemazmur berbicara tentang aspek kepekaan dalam doa syafaat ketika ia berkata: "Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya." (Mazmur 126:5-6)
    Air mata yang membasahi kita adalah sangat penting sekali dalam doa syafaat yang berkemenangan. Kita melihat bahwa air mata sering sekali disebut dalam Alkitab. Misalnya ada air mata karena sedih dan penderitaan (2 Raja-Raja 20:5) dan air mata karena sukacita dan belas kasihan (Kejadian 33:4; Yohanes 11:35). Ada air mata karena putus asa (Ester 4:1,3) maupun air mata karena kesakitan waktu melahirkan (Yesaya 42:14) dan pertobatan (Yoel 2:12-13). Dalam Alkitab, air mata digambarkan sebagai sesuatu yang disimpan Tuhan dalam botol (Mazmur 56:8, FAYH; TL "kirbat"), yang menunjukkan bahwa Tuhan menjunjung tinggi orang yang lembut hatinya.
    Air mata adalah air bagi benih rohani yang kita tanam, dan dengan demikian meyakinkan kita akan suatu tuaian yang berlimpah sebagai hasil dari kehancuran hati kita. Lebih dari sekadar suatu lampiasan emosi pada doa-doa kita, maka air mata menjadi doa-doa itu sendiri. Sebagaimana dijelaskan oleh Charles Spurgeon, "Air mata adalah doa yang cair!"
  7. Panggilan untuk Mati
    Doa syafaat adalah mati. Mati bagi diri sendiri. Kepada orang-orang percaya di Roma, Paulus menulis, "Demikian juga dengan kamu; kamu sendiri harus melihat bahwa kamu sudah mati terhadap dosa dan melihat dirimu sendiri sudah hidup untuk Allah melalui Kristus Yesus." (Roma 6:11, FAYH) Kata yang diterjemahkan "melihat" di sini berarti "mendekati sesuatu seolah-olah". Sebagai pendoa syafaat kita harus menghadapi setiap keadaan dan kenyataan seolah-olah "mati" terhadap semua prasangka atau pertimbangan duniawi. Mati artinya "tanpa perasaan".
    Perhatikan juga pentingnya kata "Demikian juga" dalam ayat tersebut. Sesungguhnya artinya "pada kenyataannya", "sebenarnya", atau "sudah jelas". Dengan kata lain, kita harus berlaku seolah-olah kita sudah sungguh-sungguh mati. Doa syafaat yang efektif menuntut kita mati bagi diri sendiri. Dan di dalam istilah rohani itu adalah mati yang sungguh-sungguh, yang sebenarnya -- "sudah jelas!"

Apakah Doa Syafaat Itu? oleh : Rev. Paul Y. Chun

1.

pttwr
Fri, 01 Jul 2005 22:52:46 -0700
From: Full Gospel Indonesia 

1. Apakah Doa Syafaat Itu? oleh : Rev. Paul Y. Chun


------------------ Solving Life's Problems ----------------

1.  Apakah Doa Syafaat Itu?

 

Doa adalah Nafas Rohani Untuk Menguatkan Roh Kita 

            Sebelum mempelajari tentang doa syafaat, kita harus bertanya 
terlebih dahulu, "Apakah doa itu? Apa pikiran Anda tentang doa?". 

            Kita dapat mengemukakan bermacam-macam jawaban, tetapi hubungan 
atau keterkaitannya hampir sama. Doa adalah percakapan rohani dengan Tuhan, 
yaitu saat kita berbicara kepada Tuhan dan Dia menjawab atau saat Tuhan 
berbicara kepada kita, dan kita menjawab. Itulah yang disebut doa. Doa bukan 
percakapan satu arah. Dan kita tahu, dalam Alkitab tertulis, "Tetaplah berdoa" 
(I Tes 5:17).

 

            Dalam tubuh kita, 'organ' yang terus bekerja dan tidak pernah 
berhenti adalah jantung. Siapapun mengetahui hal itu. Kalau jantung kita 
berhenti, semua organ di dalam tubuh kita juga berhenti.  Doa adalah nafas 
rohani, sama seperti kerja jantung. Kalau doa berhenti, kehidupan rohani kita 
juga berhenti. Kehidupan doa seperti peredaran darah yang bersikulasi di dalam 
tubuh kita. Tenaga yang baru, tersedia untuk hidup kita sewaktu darah beredar 
atau bersikulasi di dalam tubuh sambil menyaring semua kotoran. Doa juga 
memperbaharui dan membersihkan bagian yang sudah kotor. Doa adalah sarana untuk 
menyucikan dan membersihkan diri kita, ini merupakan keinginan Tuhan. Doa 
adalah nafas rohani untuk memeperkuat roh kita. 

 

Syafaat 

            Sekarang kita menyelidiki tentang syafaat. Syafaat berarti datang 
di hadapan Tuhan dengan tujuan menggantikan posisi seseorang. Saya ingin Anda 
mempercayai bahwa Tuhan Yesus adalah seorang yang menggantikan posisi kita di 
hadapan Allah untuk selama-lamanya.  Firman Tuhan berkata, "Demikian juga Roh 
membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya 
harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan 
keluhan-keluhan yang tidak terucapkan" (Roma 8:26). Ingatlah, Roh Kudus 
membimbing kita supaya dapat berdoa.

 

Perantara (Intercession)

            Syafaat diekspresikan dalam bahasa Inggris sebagai kata 
"intercession."  Arti kosakata ini adalah berdiri di antara dua orang, seperti 
saya berada dalam kelompok itu, yaitu saya berdiri di antara dua orang yang 
datang bersama di hadapan Tuhan.  Penjelasan yang lain, syafaat adalah berdoa 
di hadapan Tuhan dengan menggunakan haknya agar menerima rahmat Tuhan. 
Orang-orang yang mempunyai hak, akan berdoa. 

 

Siapakah Pendoa Syafaat? 

Pendoa syafaat adalah seseorang yang datang mendekat dan berdoa di hadapan 
Tuhan untuk menggantikan posisi orang lain yang sudah jauh dari Tuhan atau 
hidup tanpa Tuhan.  Jadi sebelum berdoa untuk orang lain, pendoa syafaat harus 
sudah mendapat pengampunan dosa dari Tuhan. 

            Kita tahu bahwa pendoa syafaat adalah seseorang yang datang di 
hadapan Tuhan dengan membawa haknya.  Hak-hak pendoa syafaat itu diterima dari 
Tuhan yang dimulai dari pengampunan dosa sampai menjadi anak Tuhan. Dan karena 
sudah mendapat pengampunan dosa maka kita dapat membimbing orang lain untuk 
mendapat pengampunan dosa juga. Prinsip yang sama dengan hal ini adalah 
anugerah, kasih, rahmat Tuhan dan mengampuni tanpa syarat.

 

            Kita sudah banyak diampuni oleh Tuhan. Ingat perumpamaan, jika kita 
mempunyai hutang sepuluh ribu talenta dan dihapuskan, apa yang akan kita 
lakukan kepada orang yang berhutang seratus dinar?  Hal ini sama seperti saya 
yang seharusnya dilemparkan ke dalam api neraka yang kekal (berhutang besar), 
tetapi karena menerima Yesus Kristus kemudian diampuni oleh Tuhan, lalu 
sekarang apa yang harus saya lakukan kepada orang lain yang melakukan kesalahan 
kecil kepada saya (berhutang kecil)?  Jadi, orang yang mempunyai pengalaman 
diampuni dan menerima pengampunan dari Tuhan, dapat mengampuni orang lain tanpa 
syarat. Orang seperti itu sajalah yang dapat berdoa syafaat untuk orang lain. 

            Lalu bagaimana cara dapat berdoa dengan sepenuh hati?  Sama seperti 
hal tadi, yaitu jika kita sudah menerima kasih Tuhan tanpa syarat, maka kita 
dapat berdoa untuk orang lain dengan kasih tanpa syarat. Seseorang yang sudah 
menerima kasih Tuhan dapat mengetahui dan mengerti konsep kasih. Kasih itu 
bukan cinta yang sering dikatakan oleh semua orang. Seseorang dapat mengasihi 
tanpa syarat  dan berdoa tanpa syarat  jika sudah menerima kasih Tuhan yang 
tidak pernah berubah.  Sebagai pendoa syafaat  kita harus memperhatikan hal-hal 
ini. Pada saat berdoa di hadapan Tuhan  jangan melakukan dengan syarat. Karena 
pendoa syafaat yang menerima kasih dari Tuhan tanpa syarat harus dapat berdoa 
tanpa syarat untuk negara yang belum pernah dikunjungi, yang bahasa dan sukunya 
tidak diketahui.

 

Dalam kitab Ester ada empat tokoh penting. Tokoh pertama adalah ratu Ester, 
tokoh kedua adalah Ahasyweros, seorang raja. Tokoh ketiga adalah Mordekhai, 
saudara dari ayah Ester yang membantu Ester.  Tokoh keempat adalah Haman, 
seorang perdana mentri yang melakukan apa saja untuk memuaskan hasratnya.  Jika 
kita menyeldiki hal tersebut dari pandangan doa syafaat, maka ratu Ester 
melambangkan pendoa syafaat, Mordekhai melambangkan Roh Kudus, Ahasyweros 
melambangkan Tuhan dan Haman melambangkan setan yang membunuh dan 
menghancurkan. Kita dapat mengetahui kisah mereka melalui kitab Ester.  Pada 
saat semua suku Israel berpuasa dan berdoa sehati, maka nasib mereka berubah 
dan lolos dari kematian. 

Melalui bangkitnya 'Gerakan Doa Syafaat Bersama', maka Tuhan menggenapi 
janjiNya menghidupkan orang yang mati dan membinasakan pembunuh.  Doa syafaat 
mengubah sejarah dengan cara demikian. Hal itu harus kita percayai dan alami.  
Karena bukanlah sifat doa syafaat yang sesungguhnya jika berpikir bahwa wilayah 
atau apa saja dapat diubahkan dan digenapi hanya melalui satu orang yang sudah 
diubah dan menerima kuasa.  Saya berharap semua orang Kristen di dunia bersatu 
dan berdoa kepada Tuhan untuk memulihkan dunia ini.  Jika demikian, bagaimana 
hati seorang pendoa syafaat dapat datang kepada Tuhan?

Untuk itu, kita menyelidiki di dalam Alkitab mengenai ciri-ciri orang yang 
dipakai Tuhan dengan luar biasa. Kita dpaat mengetahui bahwa mereka semua 
adalah pendoa syafaat.  Jika kita dapat memilih seseorang yang mempunyai iman 
yang luar biasa, tentunya dia adalah pendoa syafaat di hadapan Tuhan. Dia dapat 
berdoa untuk orang lain, mendengar suara Tuhan dan menaati kehendak Tuhan.  
Tuhan ingin membimbing zaman ini melalui mereka.

 

Abraham adalah Pendoa Syafaat yang Mengagumkan 

Sebagai pendoa syafaat Abraham muncul dalam kitab Kejadian 18:22-33. Namun kita 
akan mempelajari mulai pada Kejadian pasal 12 saat pertama kali Abraham 
mendengar suara Tuhan lalu dia pergidari negerinya, sanak saudaranya, rumah dan 
harta bapaknya serta hanya mempunyai harta yang ada padanya.  Kemudian karena 
menaati firmanNya, Tuhan memberkati Abraham dengan melimpah. 

Keponakannya yang bernama Lot juga  ikut bersama-sama dengan Abraham dan Lot 
pun diberkati oleh Tuhan. Tetapi pada suatu saat di antara kedua orang tersebut 
muncul persoalan oleh karena harta mereka yang sangat banyak.  Sperti juga kita 
yang kadang-kadang berpikir jika harta semakin banyak, maka karya Tuhan semakin 
baik.  Tetapi kita harus ingat bahwa ada kemungkinan hasilnya lebih buruk 
daripada waktu yang lalu.  Umat Allah yang ingin menjadi pendoa syafaat harus 
sadar dan bangun dari lamunan keduniawian bahwa harta menyelesaikan segala 
masalah: Harta dapat menjadi berhala. 

 

Kuasa Tuhan yang Maha Kudus dapat membuat sesuatu yang tidak mungkin menjadi 
mungkin.  Walaupun keadaan pendoa syafaat lemah dan tidak lebih baik, dia harus 
mempercayai bahwa dia berkenan di hati Tuhan dan berdoa sesuai dengan pokok doa 
yang diinginkan Tuhan sehingga dia dapat dipakai dengan dahsyat. Walaupun 
demikian pada saat kedua orang tersebut berpisah, Abraham menyesali hal itu. 
Tetapi di dalam Alkitab tertulis bahwa persoalan tersebut tidak menjadi masalah 
untuk Abraham.  Perlu diingat apa yang dilakukan oleh Abraham pada saat terjadi 
peperangan di Sodom dan Gomora.  Setelah beberapa saat Lot pindah ke kota 
tersebut, Abraham pergi ke tempat peperangan itu untuk menyelamatkan Lot. Dari 
hal ini kita harus mengambil pelajaran mengenai hati Abraham yang menolong Lot. 
 Apakah Anda bersukacita jika orang yang memfitnah dan mengecewakan Anda 
menderita kesusahan?  Anda harus berdoa supaya perasaan seperti itu hilang 
karena seorang pendoa syafaat yang sungguh-sungguh harus mampu berdoa untuk 
memberkati orang yang telah menganiaya.  Tuhan juga berfirman, "Tetapi Aku 
berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya 
kamu" (Mat 5:44).  Tetapi untuk melakukan firman Tuhan ini tidaklah mudah.  Hal 
tersebut jarang terjadi karena mengasihi musuh biasanya hanya dalam hati saja.  
Tetapi kalau firman ini dapat mengubahkan diri kita maka kita dapat mengasihi. 

Setelah Lot diselamatkan dalam peperangan, Tuhan berfirman akan memusnahkan 
semua tanah Sodom oleh karena dosa mereka.  Sodom dan Gomora akan dimusnahkan 
karena Tuhan tidak menemukan sepuluh orang benar.  Kita akan mengamati apa yang 
didoakan oleh Abraham untuk menyelamatkan Lot di hadapan Tuhan. 

 

Berdoa dengan Iman

            Pertama, berdoa dengan iman. Abraham adalah seorang pendoa yang 
beriman. Ia berdoa dengan sikap yang mengakui keadilan Tuhan, yaitu menghadap 
Tuhan dengan iman bahwa apa yang dijanjikan oleh Tuhan menurut firman Allah 
akan digenapi. Allah berkenan terhadap doa yang didoakan oleh orang yang 
beriman. Alkitab menyaksikan hal itu. Allah menghendaki doa seorang yang 
percaya bahwa yang didoakan akan diterima.  Allah berkenan ketika kita 
menanggapi hal yang didoakan. Allah mendengar doa orang yang dilakukannya 
dengan iman.  Tetapi Aku berkata kepadamu: "Pada hari penghakiman, tanggungan 
Tirus dan Sidon akan lebih ringan daripada tanggunganmu. Dan engkau Kapernaum, 
apakah engkau akan dinaikkan sampai ke langit? Tidak, engkau akan diturunkan 
sampai ke dunia orang mati! Karena jika di Sodom terjadi mujizat-mujizat yang 
telah terjadi di tengah-tengah kamu, kota itu tentu masih berdiri sampai hari 
ini.  Tetapi Aku berkata kepadamu: "Pada hari penghakiman, tanggungan negeri 
Sodom akan lebih ringan daripada tanggunganmu" (Mat 11:22-24). ". dan apa juga 
yang kamu minta dalam namaKu, Aku akan melakukannya, supaya Bapa dipermuliakan 
di dalam Anak.  Jika kamu meminta sesuatu KepadaKu dalam namaKu, Aku akan 
melakukannya" (Yoh 14:13-14).  "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firmanKu 
tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan 
menerimanya" (Yoh 15:7).

 

Abraham dibenarkan karena iman.  Pada waktu Abraham berdoa syafaat untuk Lot, 
doa itu dijawab dan digenapi oleh Tuhan. Tanah Sodom dan Gomora diselamatkan 
oleh Tuhan melalui doa syafaat Abraham dan Lot pun tidak tahu tentang hal itu.  
Tetapi Abraham tidak berkata, "Karena saya berdoa maka Lot dapat diselamatkan." 
 Tetapi dia mengucap syukur kepada Tuhan.

 

Doa Orang Benar Hanya Merenungkan Tuhan 

            Saya berharap ketika pendoa syafaat berdoa untuk orang lain jangan 
menonjolkan kebenarannya sendiri, karena dia mendapat jawaban dari Tuhan dan 
bersukacita tentang hal itu.  Juga bersyukurlah dengan sungguh-sungguh, karena 
Tuhan mendengar doa kita dan melakukan 'revival.'  Nama Tuhan ditinggikan jika 
doa orang yang benar tidak menonjolkan kebenarannya sendiri tetapi hanya 
menonjolkan kebenaran Tuhan. 

            Sebagai pendoa syafaat kita mendapat banyak pengalaman rohani dan 
sudah seharusnya pendoa syafaat bersyukur kepada Tuhan dan meninggikan nama 
Tuhan. Jika kita berdoa untuk orang lain, mereka juga akan mendapat pengalaman 
rohani samapa seperti yang kita alami.  Ingat, jangan menghakimi orang lain 
ataupun membatasi karya Tuhan yang mau memakai kita.  Caranya, sejak awal kita 
harus bersyukur karena diberi kuasa dan kasih karunia dari Tuhan untuk dipakai 
sebagai alatNya.

 

            Selain itu, yang diinginkan oleh Tuhan dengan berdoa kita dapat 
terus menerus mempertahankan kasih karunia dan kuasa yang ada di dalam hati. 
Oleh karena iman orang benar yang memiliki motivasi, tujuan serta pengharapan 
yang sesuai dengan kehendak Tuhan, akan menghasilkan doa yang benar.  Kita 
harus mengetahui tujuan berdoa. Jika tujuan itu hanya untuk kehormatan, 
kekayaan, kekuasaan, dan jumlah pertambahan jemaat saja, maka hal itu akan 
menjauhkan kita dari Tuhan.  Tetapi doa yang mempunyai tujuan,alas an dan 
pengharapan yang jelas dapat menggerakkan sejarah kekristenan pada masa lalu 
dan sanggup bertahan karena pendoa syafaat tidak goyah terhadap kesulitan apa 
saja.  Contohnya, gerakan Kebangunan Rohani di Inggris yang dimulai oleh 
Wesley, awalnya hanya melibatkan sekitar 20 orang pendoa syafaat.

 

            Perintah untuk beriman kepada Tuhan juga tertulis dalam kitab 
Markus.  Supaya dapat berjalan bersama Allah, kita harus mempunyai iman sesuai 
dengan tingkat iman yang sudah diberikan Tuhan. Jika kita melakukannya sesuai 
tingkat iman yang sudah diberikan oleh Tuhan, maka tidak akan ada masalah.  
Tetapi jika seseorang merasa mempunyai tingkat iman tertentu yang ternyata 
melebihi tingkat iman pemberian Tuhan, maka kehidupan rohaninya menjadi 
bermasalah.  Melalui orang yang taat, Tuhan menggenapi terjadinya gerakan 
Kebangunan Rohani yang dahsyat yang mengubahkan dunia ini. Contohnya, hamba 
yang mempunyai dua talenta, walaupun dipercayakan sedikit, tetapi dia menaati 
untuk menjalankannya dengan jumlah iman tertentu yang sesuai.  Di lain pihak, 
walaupun mempunyai lebih banyak talenta, tetapi dipakai untuk memuaskan hawa 
nafsunya sendiri, menyebabkan kehidupan rohaninya hancur sehingga Tuhan tidak 
berkenan.  Tuhan tidak menjawab doa yang didasari hawa nafsu dan hasrat.   Kita 
harus menyadari bahwa berdoa dengan hasrat dan ambisi manusia, dapat menjadi 
peluang untuk roh jahat melakukan kejahatan.  "Atau kamu berdoa juga, tetapi 
kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta 
itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu" (Yak 4:3).

 

Berdoa Dengan Rendah Hati 

              Kedua, berdoa dengan rendah hati. Rendah hati dapat diartikan 
sebagai kemurnian dan kelemahlembutan.  Kita akan mempelajari Abraham yang 
adalah nenek moyang orang beriman.  Dia adalah 'prototype' (gamabar awal) Yesus 
Kristus yang memberikan teladan kerendahan hati.  Abraham menyahut, 
"Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada Tuhan, walaupun aku 
debu dan abu" (Kej 18:27). Bagaimana cara Abraham dapat berbicara seperti itu 
di hadapan Tuhan?  Hal itu menunjukkan walaupun Abraham melihat dirinya tidak 
baik, tetapi dengan berani meminta kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh. Dia 
dengan berani meminta karena Tuhan membenarkan, memilih dan menjadikannya anak 
Tuhan serta membimbingnya.  Kata-kata 'Walaupun aku debu dan abu' menunjukkan 
sifat kerendahan hati yang sungguh di hadapan Tuhan.

 

            Alkitab memberikan tekanan khusus pada kerendahan hati dan tinggi 
hati.  Dalam Amsal 18:12 tertulis, "Tinggi hati mendahului kehancuran, tetapi 
kerendahan hati mendahului kehormatan."  Rendah hati juga berkaitan dengan 
kelembutan hati.  Kelembutan hati di dalam Alkitab berarti orang yang bergaul 
karib dengan Tuhan. Abraham adalah orang yang bergaul karib dengan Tuhan.  Jika 
Tuhan memerintahkan kepada Abraham, "Pergi," maka dia pergi, dan jika, "Jangan 
pergi," maka Abraham tidak pergi. 

            Bandingkanlah kuda liar dan kuda jinak, yang mana lebih cepat 
larinya? Sewajarnyalah, kuda liar berlari lebih cepat dibanding kuda jinak, 
namun tidak ada seorangpun yang mau menunggang kuda liar.  Sebab jika kuda 
jinak disuruh oleh pemiliknya, "Pergi," maka kuda itu pergi, dan 
jika,"Berhenti," kuda itupun berhenti.  Kuda liar memang berlari lebih cepat, 
tetapi tidak menaati pemiliknya, hanya berlari sesuai dengan keinginannya.  
Demikian juga kehidupan kerohanian kita, dapat menjadi rendah hati oleh 
bimbingan Roh Kudus yang melatih kita.  Arti yang lain dari rendah hati adalah 
kemurnian hati.  

            "Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah kepadaKu, karena Aku 
lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan" (Mat 11:29). 

            "Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telingaNya 
kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang 
orang-orang yang berbuat jahat" (I Petrus 3:12).

 

            Rendah hati berarti kemurnian, kemurnian adalah kesederhanaan 
(Bahasa Inggris: 'simple'). Semakin murni, semakin tidak bercampur dengan 
unsure lain.  Hampir semua orang di dalam Alkitab yang beriman besar adalah 
orang yang sederhana cara berpikirnya.  Jika mereka diperintahkan Tuhan, 
"Pergi," pasti pergi.  Kalau Tuhan berkata kepada mereka A, maka mereka 
mengakui hal itu akan menjadi A.  Tetapi orang yang rumit cara berpikirnya akan 
kehilangan iman yang besar karena mereka sering mempertanyakan alasan dari 
perkataan Tuhan. Kita dapat memperoleh kemurnian melalui berdoa. Jika Anda 
ingin kemurnian dari Tuhan, berdoalah demikian, 

            "Tuhan, tolong hapuskan perkara yang tidak Tuhan inginkan dari hati 
dan pikiran saya. Saya ingin hidup seperti yang Tuhan inginkan. Tolong hapuskan 
juga hal-hal yang menghalangi untuk maju di hadapan Tuhan dengan rendah hati, 
baik yang ada di dalam hati, pikiran dan kehidupan saya. Tolong pimpin saya 
supaya dapat melayani Tuhan dengan hati yang murni."

 

            Kita tidak dapat berdoa syafaat tanpa kerendahan hati. Saya pernah 
berdoa untuk setiap negara melalui informasi dari buku. Saya berdoa untuk 
tempat yang tidak saya ketahui sama sekali sebagai sasaran visi dan misi sambil 
menangis dan berteriak kepada Tuhan.  Selesai berdoa saya tidak merasa sedih, 
jengkel atau sakit hati walaupun tadi menangis dan berteriak.  Hal itu terjadi 
karena Roh Kudus memberikan hati seperti itu di dalam hati saya. Jika saya 
berdoa sebenatar saja di dalam hati, Roh Kudus mengijinkan saya merasakan hati 
Tuhan.

 

Berdoa Dengan Berani

            Ketiga, berdoa dengan berani.  Tuhan ingin memakai kita untuk 
berdoa syafaat, supaya tidak membatasi Tuhan  untuk hal itu, kita harus 
mempunyai hati yang berani. 

            Katanya, "Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada 
Tuhan. Sekiranya dua puluh didapati disana?" FirmanNya: "Aku tidak akan 
memusnahkannya karena yang dua puluh itu" (Kej 18:31).

            Ayat tersebut menunjukkan sebuah jalan keluar yang memenangkan 
setiap peperangan rohani atau perjuangan rohani.  Melalui orang beriman, Tuhan 
ingin memberikan kemenangan.  Kepada orang yang rendah hati Tuhan mencurahkan 
anugerah dan kuasa, namun Tuhan juga ingin memakai orang yang berani.  Tuhan 
tidak dapat memakai orang yang tidak berani karena orang itu setiap hari 
ragu-ragu walaupun dia mempunyai anugerah dan kuasa.  Perkataan Abraham 'Aku 
berani meminta' dapat diganti dengan 'Aku berani berdoa di hadapan Tuhan.'

 

            Pada saat Tuhan Yesus memanggil murid-muridNya, Dia berkata 
'Ikutlah Aku' bukan untuk orang yang diam dan duduk saja.  Tetapi Tuhan 
memanggil Matius, seorang pemungut cukai dan Petrus yang menjahit jala supaya 
dapat menjala ikan di laut dengan hati yang tulus.  Jadi Tuhan memilih dan 
memakai orang yang mempunyai ketulusan hati dengan pekerjaan sendiri.  Tuhan 
sudah melihat kemungkinan orang itu maka Tuhan meminta meninggalkan semua hal 
itu sekarang supaya dapat melihat keberaniannya.  Tuhan ingin mengamati apakah 
dia berani mengikuti Tuhan dengan iman.  Tuhan ingin kita taat kepadaNya. 
Setelah Tuhan menumbuhkan iman Abraham, Tuhan memerintahkan untuk 
mempersembahkan Ishak supaya dapat melihat ketaatan Abraham.  Maka dapat 
disimpulkan 'tidak taat adalah tanda tidak beriman.'

 

            Pada saat Roh Kudus menggerakkan hati kita, saat menginginkan kita 
berdoa, tetapi jika kita tidak menaati karena memikirkan keadaan dan kondisi 
kita, apa yang akan terjadi? Tuhan mencari orang taat yang menanggapi dengan 
segera dan melalui orang itu Tuhan selalu menggenapi karyaNya.  Pada saat 
mendengar musik dan mengemudikan mobil, di rumah maupun di gereja, kapan saja 
dan di manapun, Tuhan meminta keberanian dan ketaatan kita.  Tuhan ingin kita 
mempunyai keberanian yang tidak goyah.  Tanpa iman dan keberanian kita tidak 
dapat melayani pengusiran setan dan berdoa untuk orang sakit.  Kalau tidak 
siap, kita akan mendapat masalah sendiri pada saat mendoakan.  Antara berteriak 
karena merasa takut dan berteriak karena merasa berani saat mengusir setan 
merupakan tingkatan yang berbeda.  Menyadari keinginan Tuhan membuat kita 
berani.  Kita akan menyelidiki hal itu lebih dalam pada bagian kedua.

 

Berdoa untuk Komunitas 

            Keempat, berdoa untuk komunitas.  Abraham berdoa untuk Lot dan 
orang-orang yang tinggal di dalam kota itu. 

            "Bagaimana sekiranya ada lima puluh orang benar dalam kota itu?  
Apakah Engkau akan melenyapkan tempat itu dan tidakkah Engkau mengampuninya 
karena kelima puluh orang benar yang ada didalamnya itu?  Jauhlah kiranya 
daripadaMu untuk berbuat demikian, membunuh orang benar bersama-sama dengan 
orang fasik, sehingga orang benar itu seolah-olah sama dengan orang fasik!  
Jauhlah kiranya yang demikian daripadaMu!  Masakan Hakim segenap bumi tidak 
menghukum dengan adil?"  Tuhan berfirman: "Jika Kudapati lima puluh orang benar 
dalam kota Sodom, Aku akan mengampuni seluruh tempat itu karena mereka.  
Abraham menyahut:"Sesungguhnya aku telah memberanikan diri berkata kepada 
Tuhan, walaupun aku debu dan abu. Sekiranya kurang lima orang dari kelima puluh 
orang benar itu, apakah Engkau akan memusnahkan seluruh kota itu karena yang 
lima itu?" FirmanNya, "Aku tidakmemusnahkannya jika Aku dapati emapat puluh 
lima di sana!" (Kej 18:24-28).

 

            Di dalam ayat tersebut kita dapat melihat bahwa oleh karena Lot, 
Abraham berdoa syafaat untuk semua orang dalam kota itu.  Sebagai hamba Tuhan 
yang diberkati, kemanapun Abraham pergi maka daerah itu diberkati dan orang di 
sekelilingnya juga mendapat berkat.  Ini adalah dalah satu prinsip berkat.  
Prinsip itu diterapkan oleh Yusuf.  Saya berharap prinsip ini juga terjadi 
karena pendoa syafaat yang berdoa, sehingga tempat yang mereka kunjungi dan 
doakan serta orang yang bersama dengan mereka diberkati dan semuanya berjalan 
dengan baik. 

            Suatu saat walaupun pendoa syafaat tidak mendapat keuntungan dari 
hal tersebut, namun karena berguna untuk komunitas dan kerajaan Allah, maka dia 
harus berdoa.  Saat itulah akan kita sadari bahwa Tuhan menumbuhkan iman kita 
hingga tingkat tertentu.  Kita mampu berdoa dengan hati yang melingkupi seluruh 
dunia pada saat kita terus menerus berdoa seperti itu.  Kita tahu hati manusia 
sangat penuh dengan keinginan.  Meskipun kekayaan, kehormatan dan kenikmatan 
dimasukkan semuanya di dalam hati,  tetapi tidak pernah merasa puas.  Ini 
adalah sifat manusia.  Bahkan untuk mendapatkan lebih banyak, hati manusia 
memberontak.  Tetapi saya mengucap syukur karena hati kita yang besar sudah 
dipenuhi oleh Tuhan pencipta dunia ini.  Pada saat Tuhan masuk ke dalam hati, 
maka bagian kosong hati kita dapat diisi.  Selain memiliki hati yang melingkupi 
dunia, Kitadapat berdoa juga supaya Tuhan yang memiliki dan mengawasi 
berlangsungnya sejarah dunia.  Saya berharap para pendoa syafaat akan berdoa 
seperti poin-poin tersebut.  Sehingga oleh iman kita menerima hati Tuhan, 
berdoa dalam jamahan Roh Kudus, membaca Alkitab dan mendengarkan suara Tuhan.  
Sebagaimana Abraham yang berdoa sesuai kehendak Tuhan dengan iman dan kemurnian 
hati untuk satu bangsa di hadapan Tuhan.

 

Berdoa dengan Kesabaran dan Ketekunan 

            Kelima, berdoa dengan kesabaran dan ketekunan.  Abraham berdoa 
dengan kesabaran dan ketekunan untuk keselamatan keponakannya, yaitu Lot dan 
kota Sodom.  Di sepanjang perjalanan doa saya pernah melihat banyak orang yang 
menyerah dan berhenti. Pada saat Tuhan sudah mendengar doa kita dan menanggapi, 
kita sangat mudah berhenti mendoakan hal itu.  Begitu bodohnya jika melakukan 
hal itu.  Kesabaran diperlukan seorang pendoa syafaat untuk dapat dengan senang 
hati menunggu sampai mendapat tanggapan Tuhan.  Nikmatilah berdoa dengan 
kesabaran dan ketekunan sampai menerima tanggapan Tuhan dan dapat merasakan 
kebahagiaan yang dulu tidak pernah dibayangkan. 

            Sebagai kesimpulan, kita akan mengelompokkannya dalam beberapa 
bagian.  Melalui doa Abraham kita akan menyelidiki sikap seorang pendoa 
syafaat, antara lain:

 

            Pertama, pendoa syafaat adalah orang yang menolong orang lain, 
sehingga orang tersebut yang sudah jauh dari Tuhan menjadi orang yang mengenal 
Tuhan, lalu mau mendatangi Tuhan dan akhirnya mereka mendekat lagi kepada Tuhan.

 

            Kedua, pendoa syafaat harus berdoa untuk orang yang belum mempunyai 
keselamatan supaya memperoleh keselamatan.  Kalau ada orang yang sakit dan 
penyakitnya mengganggu hubungannya dengan Tuhan, maka dia harus berdoa kepada 
Tuhan supaya orang itu sembuh.

 

            Ketiga, jika roh jahat mengikat seseorang, maka pendoa syafaat 
harus mengikat roh jahat dan mengusirnya.  Tuhan akan memberitahu pendoa 
syafaat jika seseorang karena luka hati tidak menerima anugerah Tuhan dengan 
sepenuhnya.  Oleh karena itu pendoa syafaat dapat membimbing mereka di hadapan 
Tuhan karena Tuhan siap mencurahkan kuasa yang dapat menyembuhkannya. 

Saya berdoa supaya kehendak Tuhan yang mengagumkan dapat digenapi. 

 

Yesus Pengantara yang Kekal untuk Umat Manusia 

            Kita dapat mempelajari di dalam Alkitab Perjanjian Lama.  Saat kita 
berdoa untuk orang lain, maka gerakan Kebangunan Rohani pasti digenapi.  
Contohnya, saat Abraham bertindak sebagai pngantara dan berdoa untuk 
keponakannya Lot, maka gerakan kebangkitan dimulai dan keselamatan diterima.  
Pada saat Musa bertindak sebagai pngantara dan berdoa untuk orang Israel yang 
berdosa di hadapan Tuhan, gerakan Kebangunan Rohani juga terjadi dan 
keselamatanpun diterima.

 

            Sedangkan di dalam Alkitab Perjanjian Baru, pada saat para jemaat 
berdoa dengan kesungguhan untuk Petrus yang dimasukkan ke dalam penjara, maka 
malaikat menyelamatkan dia.  Paulus dan Silas didukung dari belakang oleh 
pendoa syafaat yang terus menerus berdoa.  Di dalam suratnya rasul Paulus 
meminta jemaat terus menerus berdoa untuk dirinya. Walaupun kuasa dari Tuhan 
sudah banyak diterima Paulus dengan berdoa sendirian tetapi segalanya tidak 
dapat digenapi. Paulus dapat menggenapi pekerjaan kebangkitan Tuhan yang 
dahsyat melalui pendoa syafaat yang terus menerus berdoa di sekelilingnya tanpa 
dilihat. Seperti itulah pelayanan doa syafaat, bisa menghidupkan jiwa yang 
sedang mengalami kematian, bisa melakukan salah satu bagian peranan yang 
penting untuk pekerjaan Tuhan.  Jika demikian siapa yang paling banyak 
melakukan pelayanan doa syafaat? 

            "Karena itu Ia sanggup juga menyelamatkan dengan sempurna semua 
orang yang oleh Dia datang kepada Allah. Sebab Ia hidup senantiasa untuk 
menjadi pengantara mereka"  (Ibr 7:25).

 

            Kita dapat mengetahui melalui ayat tadi bahwa Yesus Kristus 
senantiasa berdoa untuk kita di sebelah kanan tahta Allah.  Itu berarti 
pengantara kekal kita adalah  Yesus Kristus.  Sementara tinggal di bumi ini 
menjadi seperti Yesus Kristus adalah kerinduan kita.  Lalu bagaimana caranya?  
Yaitu dengan menaati dan meneladani pelayanan yang dilakukan oleh Yesus 
Kristus.  Langkah pertama menjadi pengantara seperti Yesus Kristus dan langkah 
berikutnya dengan meneladani pelayanan Yesus Kristus. 

            Yesus meruntuhkan tembok dosa yang menghalangi hubungan manusia 
dengan Tuhan, sehingga menghancurkan manusia.  Saat Yesus berada di dunia, Dia 
juga menjadi pendoa syafaat supaya orang yang percaya kepada Yesus dapat masuk 
sorga. Selain itu, Tuhan Yesus mengaruniakan Roh Kudus kepada orang yang 
percaya setelah Tuhan mati dan dibangkitkan. Siapapun yang percaya, dapat 
menerima Roh Kudus sebagai anugerah. 

 

Roh Kudus Pendoa Syafaat untuk Kita 

            Muncul pertanyaan dalam hati kita, siapakah saksi yang dapar 
membuktikan bahwa Yesus mendoakan kita?  Roh Kudus adalah saksi itu.  Dia 
memberikan kesaksian di dalam hati bahwa Tuhan Yesus adalah Kristus, dan 
sungguh-sungguh adalah pendoa syafaat kita.  Selain sebagai saksi, Roh Kudus 
juga berdoa untuk kita di dalam hati. 

            "Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita 
tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk 
kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.  Dan Allah yang 
menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai 
dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus." (Roma 8:26-27)

 

            Firman Tuhan tadi memberi kesaksian bahwa Roh Kudus juga berdoa 
untuk kita.  Bagaimana kita dapat mengetahui saat hal itu terjadi?  Yaitu pada 
saat hati kita disegarkan dengan membaca firman Tuhan atau ada kebebasan di 
dalam hati saat kita memuji Tuhan. Contoh, saya pernah melihat seseorang yang 
kerasukan setan disembuhkan  pada saat memuji Tuhan.  Kita juga pernah menangis 
saat berdoa, memuji atau mendengar firman Tuhan, walaupun tidak ada alasannya.  
Atau apakah anda pernah mengalami damai sejahtera yang mengalir di dalam hati?  
Itulah yang terjadi saat Roh Kudus mendoakan kita, dan kita juga tidak 
menyadari bahwa kita ikut melakukan pekerjaan Roh Kudus, di dalam hati kita.  
Kalau kehidpan kita tidak mengecewakan Roh Kudus dan tinggal dalam kehendakNya 
yang penuh dengan sukacita, maka Roh Kudus akan menghilangkan keraguan di dalam 
hati kita.  Dia akan mendorong kita untuk dapat berdoa serta menolong untuk 
menjalin hubungan lebih mendalam dengan Tuhan, sehingga memperoleh pokok doa 
yang diinginkan Tuhan.

 

            Pada saat menjalin hubungan lebih mendalam dengan Roh Kudus, kita 
dapat mendoakan apa yang menjadi kehendak Tuhan dan apa yang harus kita lakukan 
di dunia ini terhadap bangsa dan generasi agar lebih maju.  Saya berharap, kita 
dapar berdoa kepada Tuhan untuk memulihkan keadaan rohani bangsa ini dan semua 
pekerjaanNya sekali lagi.  Saya berangan-angan menjadi pendoa syafaat yang 
menginjili dunia dan pada saat itu kita akan mengalami karya Tuhan yang luar 
biasa, sebab Tuhan sendiri yang melakukan pekerjaanNya itu. 

( Seri Doa Syafaat ini berlanjut terus ) 

Sedikit tentang Rev. Paul Y. Chun :  Beliau adalah senior Pastor di Gereja 
Hasamag Korea, orang Korea pertama yang didispilinkan dalam doa syafaat di 
Global Harvest Ministries, sebuah lembaga yang menjadi pusat doa sedunia ( 
World Prayer Center ) yang berdoa untuk suku - suku terasing window 10 - 40. 
Elizabeth Albert ketua Organisasi Intercessors International 
mengimplementasikan segala hal dan seluk beluk doa syafaat kepada Rev Paul Y. 
Chun dan kini Rev Paul Y. Chun diangkat menjadi ketua Intercessors 
International untuk wilayah Benua Asia. Kunjungi website : www.lovemdi.org

Di Korea beliau mendirikan Ministry Development International.Berdomisili di 
Amerika, memiliki banyak lembaga pelayanan international. Di Indonesia sudah 
terbit buku " Doa Syafaat yang Hidup " Edisi Bahasa Indonesia. Terjemahan Bapak 
/ Ibu Barnabas Lee, diterbitkan oleh MDI, pada bulan Juli 2004 Anda bisa beli 
di toko2 buku Kristen.